banner ads
banner ads
Renungan Harian "The Light" Random Post
Masih Proses, Mohon Sabar Ya :GBU
Sponsored By :The Light Team

Selasa, 26 Juni 2012

DOA DAN TANGGUNG JAWAB

Selasa, 26 Juni 2012
Yakobus 4:3
“Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu”


Kita setuju segala sesuatu terjadi dalam topangan Tuhan yang sempurna. Tetapi kita tidak boleh menutup mata terhadap peran manusia dalam mencapai suatu keberhasilan. Hal Ini tidak bermaksud hendak mengurangi pengakuan dan penghargaan terhadap anugerah Tuhan di atas segalanya dalam kehidupan kita. (1Kor. 15:10). Ketika bintang-bintang bulu tangkis kita masih merajai berbagai turnamen, tampilah seorang “hamba Tuhan” yang mengklaim bahwa keberhasilan tim Indonesia adalah karena doanya; sebab sementara pertandingan berlangsung, ia mengangkat tangan seperti Musa (Kel. 17:8-16). Tahun berikutnya prestasi bulu tangkis Indonesia makin merosot. Sejak itu tidak ada lagi yang mengklaim bahwa doanya berkuasa mengantar tim Indonesia. Dalam hal ini, bukan berarti doa tidak berkuasa, tetapi tanggung jawab manusia tidak bisa digantikan dengan doa. Doa itu percakapan, bukan sekadar permintaan, apalagi sarana mengatur Tuhan. Juga, dahulu ada seorang petinju Kristen di Indonesia sedang bertanding mempertahankan gelar. Pada waktu itu anak-anak Tuhan diminta untuk berdoa dan berpuasa demi kemenangannya. Tim doa suatu persekutuan doa mati-matian mendoakan sang juara. Hasilnya adalah sang juara kalah, KO. Mengapa? Sebab doa tidak dapat menggantikan tanggung jawab. Bagaimana kalau pihak lawan juga orang Kristen? Mereka juga berdoa mohon pertolongan Tuhan Yesus. Wah, kalau Tuhan seperti kita, pasti Ia bingung; siapa yang dimenangkan dan yang dikalahkan?
Praktik seperti ini selain membuat seseorang melupakan tanggung jawab, juga melahirkan “dukun-dukun” di dalam gereja, yang mengangkat tangan seperti Musa demi berkat Tuhan yang dapat diturunkan—padahal peristiwa Musa berbeda sekali konteksnya. Akhirnya terjadi kultus individu yang merusak kemurnian iman Kristen. Di sini, terjadi pelecehan spiritual terhadap jemaat, yang dipermainkan dengan pengajaran palsu yang merusak kinerja hidup mereka. Terjadi pula praktik dominasi seseorang—yang dianggap tokoh yang memiliki “kesaktian”—terhadap jemaat yang dengan tulus berharap pertolongan Tuhan. Sang tokoh menjadi sumber pertolongan Ini sangat keliru; Tuhanlah yang harus menjadi pusat kehidupan kita. SE





Kekasih Tuhan !!!
Anda diberkati dengan RENUNGAN kami ?
Bagikan ke teman-teman Anda biar jadi berkat. GBU

0 komentar:

Posting Komentar

Tutorial Blog